TERIKAT DALAM TAREKAT

TAREKAT merupakan fenomena keberagamaan dalam Islam yang senantiasa aktual diperbincangkan. Kini, tarekat banyak ditekuni oleh mereka yang berupaya mendalami ajaran Islam secara utuh dengan pendekatan spiritualitas. Salah satu di antaranya yang tetap eksis adalah Tarekat Khalwatiyah Samman yang berpusat di Dusun Pattene, Desa Temmappaduae, Kecamatan Marusu, Maros. Seperti apa tarekat ini?.

Letak geografis Desa Temmappaduae, pusat Tarekat Khalwatiyah Samman, diapit oleh kota Makassar dibagian timur dan selatan. Di bagian barat dan utara adalah Desa Marumpa dan Desa Tellupuccoe yang masuk wilayah Maros.

Badan Pusat Statistik menyebutkan luas wilayah Desa Temmappaduae 7,54 km persegi dengan jumlah penduduk 2.860 jiwa. Ikatan emosional yang terbangun di antara warga itu begitu kuat karena mereka terikat pada satu tarekat.

Untuk mencapai wilayah ini, begitu mudah. Dari arah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekira waktu tempuh sepuluh menit melalui sebelah kanan jalan tol.

Infrastruktur jalan beraspal beton menyambut siapa saja yang berminat melintasi kawasan Pattene ini. Gapura yang berada di atas bentaran Sungai Kuri sebagai penanda bahwa pengunjung telah memasuki Desa Temmappaduae itu.

Menelusuri sejarah Tarekat Khalwatiyah Samman, oleh warga sekitar akan merekomendasikan nama Pimpinan Tarekat Khalwatiyah Samman, H Andi Sajaruddin Malik atau lebih dikenal dengan Puang Tompo.

Puang Tompo merupakan putra ketiga dari lima bersaudara pasangan H Muhammad Saleh Puang Turu dan Mu’minah. H Muhammad Saleh Puang Turu yang juga dikenal dengan sebutan Puang Lompo adalah putra dari Syekh Abdullah Puang Ngatta yang diberi amanah untuk mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Samman. Syekh Abdullah inilah yang membuka perkampungan baru yaitu Kampung Pattene sebagai pusat pengembangan Tarekat Khalwatiyah di tahun 1897 M sampai sekarang.

Fajar berjumpa dengan Puang Tompo pada Jumat malam, 3 Februari di kediamannya yang terbilang cukup luas. Rumah yang dibangun di atas lahan 2 hektare itu di sisi bagian kanan berdiri baruga yang dijadikan pusat kegiatan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bersanding dengan wafatnya (haul) ke-45 Syekh Muhammad Saleh Puang Turu yang lahir pada 1862 M dan wafat pada hari Rabu, 20 Rabiul Awal 1387 H atau bertepatan dengan 28 Juli 1967.

Makam Syekh Muhammad Saleh Puang Turu atau Puang Lompo dan keluarganya berada di sekitar areal Masjid Nur Amin yang jaraknya tak jauh dari rumah Puang Tompo. Makam inilah yang kerap diziarahi para pengikut Tarekat Khalwatiyah Samman setiap saat. Khususnya jelang peringatan wafatnya Syekh Muhammad Saleh yang jatuh pada 20 Rabiul Awal 1432 H yang bertepatan dengan 13 Februari 2012.

Mengapa tarekat ini disebut dengan Tarekat Khalwatiyah Samman? Diceritakan Puang Tompo, Samman merupakan nama marga yang melekat pada nama salah seorang sufi besar yang mengembangkan Tarekat Khalwatiyah di Madinah.

“Nama Samman kemudian dinisbahkan kepada Tarekat Khalwatiah menjadi Khalwatiyah Samman,“ tuturnya.

Puang Tompo malam itu didampingi oleh kerabatnya, Dr HM Ruslan MA yang membantunya menceritakan sejarah mengenai tarekat ini. Ruslan sendiri adalah pakar tasawuf dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang pernah menulis buku tentang sejarah Tarekat Khalwatiyah Samman dengan judul “Meluruskan Pemahaman Makna Tarekat”.

Kehadiran Syekh Muhammad Samman sebagai seorang wali Allah di dalam masyarakat muslim Medinah untuk meluruskan kembali asas keislaman mereka, yaitu bertauhid kepada Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu muridnya yang telah dibaiat langsung oleh Syekh Muhammad Samman adalah Syekh Siddiq bin Umar. Syekh Siddiq inilah yang kemudian mengajarkan Tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Idris bin Usman. Setelah itu, dari Syekh Idris kepada Syekh Abdullah al-Munir.

Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Syekh Abdullah al-Munir mempelajari Tarekat Khalwatiyah dari Syekh Idris bin Usman di Medinah. Syekh Abdul Munir inilah yang membawa tarekat ini ke Sulawesi dengan mengajarkannya kepada Muhammad Fudail (anak kandungnya sendiri).

“Untuk pertama kalinya, beliau mengembangkan di Barru. Tarekat ini kemudian berkembang pula di Palembang oleh Syekh Abdul Samad dan di Jawa oleh Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin al-Jawi. Sedangkan di Kalimantan oleh Syekh Arsyad al-Banjari,” sebut pria kelahiran 7 September 1942 itu.

Muhammad Fudail atau dikenal dengan Lalo Pananrang Daeng Manessa mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Samman di kalangan bangsawan Bugis Makassar pada sekira tahun 1860. Namun sejak wafatnya Muhammad Fudail dan dimakamkan di Barru, pusat penyebaran dan pengembangannya berpindah ke Maros oleh Syekh Abdul Razak , salah satu muridnya yang berkedudukan di Paccelekang, Kabupaten Maros.

Setelah Syekh Abdullah Razak wafat pada tahun 1866 M, pengembangan tarekat diteruskan oleh putranya , Syekh Abdullah bin Razak. Syekh Abdullah bin Razak inilah kakek dari Puang Tompo atau ayahanda dari Puang Lompo yang meneruskan amanah untuk pengembangan Tarekat Khalwatiyah Samman.

“Semasa beliau hidup, Puang Lompo banyak melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk memberikan pencerahan batin dan dorongan untuk meningkatkan intensitas amalan syariah serta wirid-wirid yang diajarkan dalam tarekat,” paparnya.

Adapun ajaran Puang Lompo itu di antaranya, meningkatkan kesejahteraan lahiriah, memelihara salat berjamaah, jangan mudah mempersalahkan sesuatu hal, dan menjauhi sifat-sifat mengandung dosa.

“Puncak peringatan tanggal 13 Februari namun pengikut tarekat ini biasanya sudah ada di tempat ini sepuluh hari sebelum hari H,” sambung Ruslan. Dalam masa sepuluh hari itu, pengikut tarekat ini akan melaksanakan ceramah keagamaan, salat berjemaah, dan zikir bersama.

Ruslan menyebut, diperkirakan peringatan haul tahun ini jumlah pengunjung akan naik sepuluh persen dibanding tahun lalu yaitu mencapai 500 ribu orang. Mereka tak hanya berasal dari seluruh nusantara namun dari sejumlah negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. “Semangat persatuan dan rasa cintanya pada Puang Lompo membuat setiap tahun pengunjung selalu membengkak di tempat ini,” ujarnya.

Seorang peziarah makam Puang Lompo, Ehsan,25 tahun, mengaku setelah mengikuti peringatan haul dan menziarahi makam Puang Lompo, dirinya merasa lebih optimis menatap masa depan. “Keluarga saya tiap tahun ke sini dan setelah dari sini kita merasa akidah itu makin kuat,” ujar pria asal Bontang, Kalimantan Timur.

Peringatan haul Puang Lompo ini cukup menarik. Meski pengunjung bisa mencapai lima ratus ribu, namun sejauh ini keamanan relatif terjamin. Kendati demikian, keamanan tetap dipersiapkan oleh instansi pemerintah setempat. Camat Marusu, Mohammad Yani mengatakan pemerintah setempat akan bekerjasama dengan jajaran Kapolda dan TNI untuk menjaga stabilitas pelaksanaan haul nanti.

“Keberadaan Tarekat Khalwatiyah Samman ini juga membanggakan kita karena ini salah satu wisata budaya di Maros,” tuturnya.

Senada dengannya, Kepala Dinas Pariwisata Maros, Rahmat Burhanuddin juga mengakui peringatan yang digelar setiap tahun menjadi salah satu andalan Butta Salewangang dalam mempromosikan salah satu tempat wisata budaya. “Memang selama ini kami gencar promosikan Bantimurung, namun kegiatan Tarekat Khalwatiyah Samman juga kami promosikan sebagai salah satu wisata budaya yang menarik dikunjungi, “ pungkasnya. (*)

Sumber : Fajar.co.id

2 Responses to “TERIKAT DALAM TAREKAT”

  1. Muhammad Riza Says:

    Bingkai Kecil Sejarah SYEIKH ABDUR RAZAK,

    Haji Abdur Razak adalah putra dari pasangan La Mappangara Arung Sinri (cucu dari La Patau Matanna Tikka, Raja Bone XVII dari istrinya, St.Maemuna Dala Marusu’, putri dari KaraEng Marusu’ Angsakayai Binangana Marusu’) dengan We Kalarung Arung Pallengoreng (Putri Raja Bone La Tenri Tappu MatinroE Ri Rompegading dengan We Padauleng MatinroE Ri Sao’Denrana Ri Bontomanai’ – Maros)

    Haji Abdur Razak atau Haji Palopo atau Syeikh Al Haj Abdur Razak Al Bugis Al Buni Syams Al Arifin berguru dan mendalami Tarekat Khalwatiyah Samman pada Syeikh Maulana Muhammad Fudael di Barru.
    Syeikh Maulana Muhammad Fudael adalah Putra dari Syeikh Abdullah Al Munir, kerabat Kerajaan Bone dan Kerajaan Sumbawa. Syeikh Abdullah Al Munir adalah putra dari La Kasi Ponggawa Bone dengan Datuk Nelola, putri Sultan Sumbawa.
    Syeikh Abdur Razak menerima ajaran Tarekat Khalwatiyah Samman bersama-sama dengan I Mallingkaan Dg.Manyonri, Ishak Manggabarani Karaeng Mangepe, Sengkerru Rukka Arung Palakka, Topatarai Arung Berru, Abdul Gani Petta Nambung Arung Ta’ (Putra Syeikh Muhammad Fudail) dan beberapa bangsawan tinggi lainnya.

    Setelah menerima amanah untuk melanjutkan Tarekat Khalwatiyah Samman, maka Syaikh Abdur Razak kembali ke Maros dan bermukim di kampung PACELLE’ (bukan Peccelekang!), wilayah Distrik Turikale.
    Syeikh Abdur Razak mempunyai tiga orang anak dari istrinya, I Kamummu (cucu dari I Malluluang Dg. Manimbangi, Karaeng Tanralili matinroe Ri Cidu’) yakni Abdullah, Abdur Rahman dan P.Sibo’.

    Di Turikale, Syaikh Abdur Razak mulai mengajarkan tarekat Khalwatiyah Samman di kalangan bangsawan.Tercatat murid-murid beliau antara lain : La Umma Dg.Manrapi (KaraEng Turikale III), I Sanrima Dg.Parukka atau Syeikh Abdul Qadir Jailani (KaraEng Turikale IV), I Patahuddin Dg.Parumpa (KaraEng Simbang), Abdul Wahab Dg.Mattuppu ( Parengki) dan kedua putranya,yakni Abdullah dan Abdur Rahman.

    Pada bulan Zulkhaidah tahun 1293 H.,Syeikh Abdur Razak hijrah ke Pulau Buboto,Sumbawa – NTB bersama keluarganya dengan menumpang kapal dagang belanda.Beliau tiba di Sumbawa pada tanggal 10 Dzulhijjah 1293 H dan tiba di Pulau Buboto pada tanggal 14 Muharram 1294 H.
    Sebelum Hijrah ke Sumbawa, Syeikh Abdur Razak terlebih dahulu memberikan izin kepada I Sanrima Dg. Paruka KaraEng Turikale IV (Puang KaraEng Toa) untuk mengangkat khalifah dalam rangka pembinaan dan pengembangan Khalwatiyah Samman secara meluas dan berkelanjutan. Dalam kapasitasnya sebagai seorang khalifah,Syeikh Abd.Qadir Jailani,KaraEng Turikale IV menjalankan fungsi keummatan dibantu oleh dua orang putranya yaitu La Palaguna KaraEng Mangngento (Karaeng Turikale V atau Puang KaraEng) dan La Page Manyanderi Petta Ranreng atau Petta Hajji, Imam Turikale VI (ipar dari Syeikh Abdullah Puang Ngatta).
    Sebagai tindak lanjut dari amanah yg diberikan oleh Syeikh Abdur Razak, maka Syeikh Abd.Qadir Jailani mengangkat putranya La Palaguna KaraEng Mangngento sebagai khalifah dengan gelar Syeikh Muhammad Salahuddin.

    Setelah kurang lebih Tiga tahun Syeikh Abdur Razak bermukim di Sumbawa, I Sanrima Dg. Parukka KaraEng Turikale IV merasakan kerinduan yang amat dalam akan hadirnya kembali Syeikh Abdur Razak di tengah-tengah ummat. KaraEng Turikale IV sangat mengharapkan agar Syeikh Abdur Razak berkenan kembali dan menetap di Turikale dan timbul niat besar beliau untuk menjemput Syeikh Abdur Razak di Sumbawa.
    Sebagai langkah awal, KaraEng Turikale IV mendirikan rumah panggung di Solojirang untuk tempat tinggal Syeikh Abdur Razak beserta keluargannya yang dilengkapi dengan lumbung padi dan sumur. Setelah segalanya rampung, KaraEng Turikale IV bersiap untuk berangkat ke Sumbawa untuk menjemput Syeikh Abdur Razak beserta keluarganya. Sebelum berangkat ke Sumbawa, Syaikh Abdul Qadir Jailani memberikan izin kepada putranya yakni Syeikh Muhammad Salahuddin untuk mengangkat khalifah agar sepeninggal KaraEng Turikale IV ke Sumbawa Tarekat Khalwatiyah Samman tetap berkembang.
    Setelah Syeikh Abdul Qadir Jailani tiba di Buboto, dengan penuh kesabaran beliau memohon agar Syeikh Abdur Razak berkenan menerima ajakannya untuk kembali ke Solojirang Turikale. Melihat ketulusan dan kesungguhan hati KaraEng Turikale, maka Syeikh Abdur Razak memenuhi ajakan tersebut untuk kembali ke Turikale.

    Syeikh Abdur Razak tiba kembali di Solojirang pada tanggal 20 Dzullhijjah 1296 H.
    Setelah beberapa tahun bermukim di Solojirang Turikale, Syeikh Abdur Razak kemudian mencari pemukiman baru yang letaknya agak jauh dari keramaian. Syeikh Abdur Razak bersama-sama dengan Syeikh Abdul Qadir Jaelani dan KaraEng Simbang mengadakan peninjauan ke berbagai tempat untuk mendapatkan lokasi yang tepat sebagai permukiman. Dari beberapa lokasi yang didatangi ,maka daerah yang bernama Leppakkomailah yang diangap paling tepat oleh Syaikh Abdur Razak.
    Pada hari selasa tanggal 21 Muharram 1320 H, Syeikh Abdur Razak wafat dalam usia 71 Tahun. Jenazah Syaikh Abdul Razzak dimakamkam di Kalokko’e – Leppakkomai.
    Setelah beliau wafat, maka yang menerima amanah selaku pelanjut Tarekat Khalwatiyah Samman adalah kedua putra beliau yakni Syeikh Abdullah dan Syeikh Abdur Rahman secara kolektif.

    Syeikh Abdullah menetap dan melanjutkan ajaran tarekat ini di Leppakkomai, yang kemudian membuka Patte’ne bersama-sama dengan La Palaguna Dg. Marowa, Puang KaraEng Mangngento’ (KaraEng Turikale V).

    Adik Syeikh Abdullah, yakni Syeikh Abdur Rahman diamanahkan untuk kembali menyiarkan ajaran ini di Bone. Sebagai tindak lanjut dari amanah yang diberikan oleh ayahandanya, maka Syeikh Abdur Rahman menuju ke Kerajaan Bone dan menetap di Padaelo yang letaknya sekitar 16 km dari Watampone. Pada masa tersebut, tarekat Khalwatiah Samman sudah mulai redup sejak wafatnya Raja Bone Singkerru Rukka Arung Palakka Matinroe ri Tengngana Topaccing. Semasa hidup beliau, tarekat Khalwatiah Samman hanya dianut oleh putra-putrinya dan kerabat kalangan bangsawan saja, sedangakan Khalifah yang diangkat oleh Baginda juga dari kalangan bangsawan saja (termasuk Arung Otting yang pada masa itu juga sudah wafat).
    Melihat kondisi ini, Syeikh Abdur Rahman mencari solusi yang tepat untuk menghidupkan kembali apa yang telah dirintis oleh Matinroe Ri Tengngana Topaccing. Syaikh Abdur Rahman menghimpun kembali jema’ah Tarekat Khalwatiah Samman yang masih ada,menggiatkan Majelis Dzikir dan mengadakan silaturrahmi dengan tokoh-tokoh adat dari berbagai kalangan.
    Dan untuk pertama kalinya Tarikat Khalwatiah Samman yang sebelumnya dikenal sebagai “ Tarekat Arung “ mulai diajarkan kepada kalangan awam.

    Tercatat pula bahwa Syeikh Abdur Rahman juga mengangkat beberapa Khalifah di Bone dan di Soppeng :
    1. Haji Abd. Rasyid di Palakka
    2. Guru Mappile di Salo’ Lampe’
    3. Guru Lama’ di Lea
    4. Daeng Pawawo di Soppeng

    Syeikh Abdullah dan Syeikh Abdur Rahman bersama-sama bertindak selaku Pelanjut Tarekat Khalwatiyah Samman dengan mengedepankan prinsip sipakatau,sipakainge’,sipakalebbi’,sipakaraja dan sipakario-rio, dimana yang muda tetap menghormati yang lebih tua dan yang tua tetap menghargai yang lebih muda.

    Syeikh Abdur Rahman menikah dengan I Potte Petta Baji, putri dari pasangan La Pettekkong Petta Lallo Arung Malaka dan Petta Nenre (Putri dari La Pakanna Arung Cenrana).
    Syeikh Abdur Rahman wafat di Padelo-Bone pada hari jum’at, 29 Jumadil awal 1338 H.
    Jenazah Syaikh Abdul Rahman dibawa dari Padaelo ke Leppakomai (Maros) dengan menggunakan usungan besar.Usungan diantar oleh ratusan orang secara estafet dari padaelo menuju kampong lainnya sampai ke Leppakomai selama 7 hari 7 malam. Jenazah beliau diikuti oleh 3 orang putranya dan 2 orang keponakannya, putra dari Syaikh Abdullah yaitu Syaikh Muhammad Saleh dari Pattene dan Syaikh Muhammad Amin dari Leppakomai. Beberapa tempat yang disinggahi iringan jenazah beliau dijamu dengan pemotongan kerbau dan sapi. Memasuki wilayah Camba jenazah sempat disemayamkan untuk memberikan kesempatan jemaah khalwatiyah Samman dan masyarakat luas untuk membacakan do’a atas permintaan Arung Cenrana. Hal yang sama dilakukan saat memasuki wilayah Bantimurung. Karaeng Simbang menjamu para pengiring jenazah beliau, dan terakhir jenazah beliau disemayamkan di Solojirang Turikale untuk memberikan kesempatan pada para jemaah khalwatiyah Samman untuk memanjatkan do’a.Selanjutnya jenazah diusung ke Leppakomai untuk dimakamkan di Kalokko’E , dekat Ayahanda beliau.

    “Pelanjut” tarekat Khalwatiyah Samman bersifat kolektif, seperti yang nampak pada masa Syeikh Abdullah dan Syeikh Abdur Rahman.
    Pelanjut dari Syeikh Abdullah adalah putra-putranya yakni Syeikh Muhammad Saleh (Puang Lompo), Syeikh Muhammad Amin (Puang Ri NipaE) dan Syeikh Muhammad Ibrahim.
    Sedang Pelanjut dari Syeikh Abdur Rahman adalah juga putra-putranya, yakni Syeikh Abdul Quddus, Syeikh Muhammad Zainuddin (Puang Ri Solojirang/Imam Turikale VI) dan Syeikh Abdul Razak (Puang Ri A’jalireng).

    Demikian sedikit petikan sejarah tentang Syeikh Akbar Tarekat Khalwatiyah Samman, yakni Syeikh Al Haj Abdur Razak Al Bugis Al Buni Syams Al Arifin. Semoga tulisan ini dapat memberikan pemahaman tentang perjalanan Tarekat Khalwatiyah Samman yang berpusat di Maros dan meluruskan pemahaman tentang para pelanjut Tarekat Khalwatiyah Samman serta ikatan TURIKALE, LEPPAKKOMAI dan PATTENE yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

    Wassalamu Alaikum Wr. wb.
    Riza Mappangara

    • amirfudail Says:

      Assalamu Alaikum Wr. Wb.

      Terima kasih atas infota. ijin, saya mau masukkan sebagai tulisan di blog ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: