Bersatu Terima Tamu Puang Lompo

March 14, 2012

Empatpuluh lima tahun sudah wafatnya Syekh Muhammad Saleh Puang Turu atau lebih dikenal dengan Puang Lompo. Syekh besar ini meninggal bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 20 Rabiul Awal 1387 H.

Namun, semangat memperingati tanggal kematiannya itu, turun-temurun masih menyala di dada para pengikut Tarekat Khalwatiyah Samman.

Mayoritas warga Dusun Pattene, Desa Temmappaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulsel adalah pengikut Tarekat Khalwatiyah Samman. Olehnya, sebagai penduduk asli mereka harus siap menerima konsekuensi melayani “tamu-tamu Puang Lompo” yang berkunjung setiap tahun.

Layanan itu adalah bagaimana mereka merelakan dan mengikhlaskan rumah pribadi dijadikan tempat menginap hingga berhari-hari. “Tak ada unsur paksaan di sini. Bahkan mereka tidak dikenakan tarif sewa. Kuncinya semua warga di sini ikhlas dan rela rumah mereka dijadikan tempat menginap para tamu Puang Lompo,” tutur H. Andi Sajaruddin Malik atau lebih dikenal dengan Puang Tompo, Jumat malam, 3 Februari.

Barangkali, inilah acara peringatan yang terbesar namun tidak memakai panitia. Bagi Puang Tompo, setiap tamu maupun warga adalah panitia bagi diri mereka sendiri.

Kepala Dusun Pattene, Rahim Majid yang ditemui keesokan harinya menceritakan, sejak kecil mereka telah dikenalkan oleh orang tua dengan tradisi itu meladeni tamu-tamu Puang Lompo itu. Sehingga ketika mereka besar dan menjadi tuan rumah, kedatangan tamu-tamu yang menginap di rumah seperti saudara. Pun halnya dalam soal makan, masing-masing saling melayani.

“Kalau tamu membawa bekal, mereka masak dan diperuntukkan juga buat tuan rumah. Begitu pun sebaliknya. Jadi, tamu dan tuan rumah menganggap rumah itu adalah rumah milik bersama,“ jelas Rahim.

Jika rumah sesak, tak jarang tamu terpaksa menggelar tikar di luar. Bahkan tak jarang ditemui pemandangan, ada pengikut tarekat ini yang membawa anak kecil lalu ayunannya terpaksa di gantung di batang pohon. “Itu kalau rumah sudah penuh dan mereka memilih tidur di luar,” katanya.

Nah, kalau hujan deras tiba-tiba mengguyur, terpaksa para pengikut tarekat khalwatiyah berbondong-bondong mencari perlindungan di dalam rumah. Disitulah, tampak kebersamaan itu terjaga.

Andi Gurdin, 52 tahun, salah satu warga menceritakan, setiap kepala keluarga umumnya telah menyisihkan penghasilan mereka setiap tahun untuk menjamu tamu-tamu itu. Sehingga ketika tamu berkunjung yang satu rumah bisa mencapai ratusan tamu, mereka dapat menjamu dengan maksimal.

“Tapi tamu yang bermalam juga sering bawa makanan sendiri dan masak sendiri. Pokoknya di sini tidak ada yang kelaparan karena makanan tersedia 24 jam,” tuturnya yang diangguki warga sekitar.

Selama puluhan tahun digelar, peringatan haul di Tarekat Khalwatiyah Samman, tidak pernah terjadi kerusuhan maupun chaos. “Itu karena mereka ke sini satu tujuan yaitu untuk memperingati puang Lompo yang dicintai. Kalau banyak tujuan atau kepentingan kan itu biasanya yang bikin ribut,” kata dia yang menyebut, puncak kedatangan tamu biasanya tiga hari minus hari H dan dua hari plus.

Selain memperingati meninggalnya Puang Lompo yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, Dusun Pattene juga bakal dimeriahkan oleh ratusan pedagang. Dari pantauan FAJAR, ratusan lapak-lapak untuk menampung para pedagang itu hampir rampung.

Rahim Majid menyebut, tahun ini dipersiapkan sekitar 400 lapak yang menjual aneka dagangan. “Semuanya di jual di sini kecuali kursi dan televisi,” katanya dengan nada canda.

Pembangunan lapak yang terbuat dari bambu itu mencapai tahap perampungan 90 persen dan setiap penyewa dikenakan Rp300 ribu per tiga hari untuk satu lapak. (yan/ars)

Sumber : Fajar.co.id

TERIKAT DALAM TAREKAT

March 14, 2012

TAREKAT merupakan fenomena keberagamaan dalam Islam yang senantiasa aktual diperbincangkan. Kini, tarekat banyak ditekuni oleh mereka yang berupaya mendalami ajaran Islam secara utuh dengan pendekatan spiritualitas. Salah satu di antaranya yang tetap eksis adalah Tarekat Khalwatiyah Samman yang berpusat di Dusun Pattene, Desa Temmappaduae, Kecamatan Marusu, Maros. Seperti apa tarekat ini?.

Letak geografis Desa Temmappaduae, pusat Tarekat Khalwatiyah Samman, diapit oleh kota Makassar dibagian timur dan selatan. Di bagian barat dan utara adalah Desa Marumpa dan Desa Tellupuccoe yang masuk wilayah Maros.

Badan Pusat Statistik menyebutkan luas wilayah Desa Temmappaduae 7,54 km persegi dengan jumlah penduduk 2.860 jiwa. Ikatan emosional yang terbangun di antara warga itu begitu kuat karena mereka terikat pada satu tarekat.

Untuk mencapai wilayah ini, begitu mudah. Dari arah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekira waktu tempuh sepuluh menit melalui sebelah kanan jalan tol.

Infrastruktur jalan beraspal beton menyambut siapa saja yang berminat melintasi kawasan Pattene ini. Gapura yang berada di atas bentaran Sungai Kuri sebagai penanda bahwa pengunjung telah memasuki Desa Temmappaduae itu.

Menelusuri sejarah Tarekat Khalwatiyah Samman, oleh warga sekitar akan merekomendasikan nama Pimpinan Tarekat Khalwatiyah Samman, H Andi Sajaruddin Malik atau lebih dikenal dengan Puang Tompo.

Puang Tompo merupakan putra ketiga dari lima bersaudara pasangan H Muhammad Saleh Puang Turu dan Mu’minah. H Muhammad Saleh Puang Turu yang juga dikenal dengan sebutan Puang Lompo adalah putra dari Syekh Abdullah Puang Ngatta yang diberi amanah untuk mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Samman. Syekh Abdullah inilah yang membuka perkampungan baru yaitu Kampung Pattene sebagai pusat pengembangan Tarekat Khalwatiyah di tahun 1897 M sampai sekarang.

Fajar berjumpa dengan Puang Tompo pada Jumat malam, 3 Februari di kediamannya yang terbilang cukup luas. Rumah yang dibangun di atas lahan 2 hektare itu di sisi bagian kanan berdiri baruga yang dijadikan pusat kegiatan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang bersanding dengan wafatnya (haul) ke-45 Syekh Muhammad Saleh Puang Turu yang lahir pada 1862 M dan wafat pada hari Rabu, 20 Rabiul Awal 1387 H atau bertepatan dengan 28 Juli 1967.

Makam Syekh Muhammad Saleh Puang Turu atau Puang Lompo dan keluarganya berada di sekitar areal Masjid Nur Amin yang jaraknya tak jauh dari rumah Puang Tompo. Makam inilah yang kerap diziarahi para pengikut Tarekat Khalwatiyah Samman setiap saat. Khususnya jelang peringatan wafatnya Syekh Muhammad Saleh yang jatuh pada 20 Rabiul Awal 1432 H yang bertepatan dengan 13 Februari 2012.

Mengapa tarekat ini disebut dengan Tarekat Khalwatiyah Samman? Diceritakan Puang Tompo, Samman merupakan nama marga yang melekat pada nama salah seorang sufi besar yang mengembangkan Tarekat Khalwatiyah di Madinah.

“Nama Samman kemudian dinisbahkan kepada Tarekat Khalwatiah menjadi Khalwatiyah Samman,“ tuturnya.

Puang Tompo malam itu didampingi oleh kerabatnya, Dr HM Ruslan MA yang membantunya menceritakan sejarah mengenai tarekat ini. Ruslan sendiri adalah pakar tasawuf dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang pernah menulis buku tentang sejarah Tarekat Khalwatiyah Samman dengan judul “Meluruskan Pemahaman Makna Tarekat”.

Kehadiran Syekh Muhammad Samman sebagai seorang wali Allah di dalam masyarakat muslim Medinah untuk meluruskan kembali asas keislaman mereka, yaitu bertauhid kepada Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu muridnya yang telah dibaiat langsung oleh Syekh Muhammad Samman adalah Syekh Siddiq bin Umar. Syekh Siddiq inilah yang kemudian mengajarkan Tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Idris bin Usman. Setelah itu, dari Syekh Idris kepada Syekh Abdullah al-Munir.

Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Syekh Abdullah al-Munir mempelajari Tarekat Khalwatiyah dari Syekh Idris bin Usman di Medinah. Syekh Abdul Munir inilah yang membawa tarekat ini ke Sulawesi dengan mengajarkannya kepada Muhammad Fudail (anak kandungnya sendiri).

“Untuk pertama kalinya, beliau mengembangkan di Barru. Tarekat ini kemudian berkembang pula di Palembang oleh Syekh Abdul Samad dan di Jawa oleh Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin al-Jawi. Sedangkan di Kalimantan oleh Syekh Arsyad al-Banjari,” sebut pria kelahiran 7 September 1942 itu.

Muhammad Fudail atau dikenal dengan Lalo Pananrang Daeng Manessa mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Samman di kalangan bangsawan Bugis Makassar pada sekira tahun 1860. Namun sejak wafatnya Muhammad Fudail dan dimakamkan di Barru, pusat penyebaran dan pengembangannya berpindah ke Maros oleh Syekh Abdul Razak , salah satu muridnya yang berkedudukan di Paccelekang, Kabupaten Maros.

Setelah Syekh Abdullah Razak wafat pada tahun 1866 M, pengembangan tarekat diteruskan oleh putranya , Syekh Abdullah bin Razak. Syekh Abdullah bin Razak inilah kakek dari Puang Tompo atau ayahanda dari Puang Lompo yang meneruskan amanah untuk pengembangan Tarekat Khalwatiyah Samman.

“Semasa beliau hidup, Puang Lompo banyak melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk memberikan pencerahan batin dan dorongan untuk meningkatkan intensitas amalan syariah serta wirid-wirid yang diajarkan dalam tarekat,” paparnya.

Adapun ajaran Puang Lompo itu di antaranya, meningkatkan kesejahteraan lahiriah, memelihara salat berjamaah, jangan mudah mempersalahkan sesuatu hal, dan menjauhi sifat-sifat mengandung dosa.

“Puncak peringatan tanggal 13 Februari namun pengikut tarekat ini biasanya sudah ada di tempat ini sepuluh hari sebelum hari H,” sambung Ruslan. Dalam masa sepuluh hari itu, pengikut tarekat ini akan melaksanakan ceramah keagamaan, salat berjemaah, dan zikir bersama.

Ruslan menyebut, diperkirakan peringatan haul tahun ini jumlah pengunjung akan naik sepuluh persen dibanding tahun lalu yaitu mencapai 500 ribu orang. Mereka tak hanya berasal dari seluruh nusantara namun dari sejumlah negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. “Semangat persatuan dan rasa cintanya pada Puang Lompo membuat setiap tahun pengunjung selalu membengkak di tempat ini,” ujarnya.

Seorang peziarah makam Puang Lompo, Ehsan,25 tahun, mengaku setelah mengikuti peringatan haul dan menziarahi makam Puang Lompo, dirinya merasa lebih optimis menatap masa depan. “Keluarga saya tiap tahun ke sini dan setelah dari sini kita merasa akidah itu makin kuat,” ujar pria asal Bontang, Kalimantan Timur.

Peringatan haul Puang Lompo ini cukup menarik. Meski pengunjung bisa mencapai lima ratus ribu, namun sejauh ini keamanan relatif terjamin. Kendati demikian, keamanan tetap dipersiapkan oleh instansi pemerintah setempat. Camat Marusu, Mohammad Yani mengatakan pemerintah setempat akan bekerjasama dengan jajaran Kapolda dan TNI untuk menjaga stabilitas pelaksanaan haul nanti.

“Keberadaan Tarekat Khalwatiyah Samman ini juga membanggakan kita karena ini salah satu wisata budaya di Maros,” tuturnya.

Senada dengannya, Kepala Dinas Pariwisata Maros, Rahmat Burhanuddin juga mengakui peringatan yang digelar setiap tahun menjadi salah satu andalan Butta Salewangang dalam mempromosikan salah satu tempat wisata budaya. “Memang selama ini kami gencar promosikan Bantimurung, namun kegiatan Tarekat Khalwatiyah Samman juga kami promosikan sebagai salah satu wisata budaya yang menarik dikunjungi, “ pungkasnya. (*)

Sumber : Fajar.co.id

PENYERAHAN DIRI SEORANG MURID

April 2, 2009

Dalam ajaran pertarikatan, etika murid terhadap guru (mursyid) adalah satu hal yang menjadi faktor keberhasilan seorang murid dalam menempuh perjalanan spiritualnya
Dalam satu kisah diceritakan, suatu ketika nabi sedang berdiri di mimbar lalu seorang pemuda masuk ke dalam masjid. Saat itu nabi menghentikan ceramahnya dan menjemput
sang pemuda. Beberapa sahabat bertanya siapa gerangan pemuda itu. Nabi pun memperkenalkan bahwa pemuda itu adalah putra dari seorang yang telah mengajarkan sesuatu kepada Nabi.
Pada satu waktu Syech Muhammad Fudail guru dari Syech Abdur Razak menyampaikan kepada murid-muridnya bahwa dia baru saja kehilangan cincin ketika berada di kamar kecil.
Serta merta murid-murid beliau berinisiatif untuk mencari cincin itu, sebagian mencari kayu dan mengorek-ngorek kotoran dimana cincin tersebut diperkirakan terjatuh, namun Abdur razak sendiri menyinsingkan lengan bajunya dan dengan tangan itu dicarinya cincin yang terjatuh itu hingga dia mendapatkannya.
Di satu waktu yang lain sang guru baru saja dari satu tempat dan membawa kayu yang belum dilunasinya. Pada saat itu ketika sang guru belum dapt menyelesaikan persoalan kayu itu, sang murid Syech Abdur Razak menyerahkan diri kepada pemilik kayu untuk menjadi alat tukar bagi kayu yang telah di beli oleh gurunya.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya sang murid inilah yang menjadi penerus penyebar Tarekat Khalawayiyah Zammanniyah.
Penyerahan diri seorang murid kepada mursyidnya adalah salah satu latihan penyerahan diri. Penyerahan diri adalah wujud dari hilangnya ke-aku-an seorang hamba hingga lebur hanya kepada keberadaan Yang Maha Ada.
Ke-aku-an seorang hamba adalah awal dari kedurhakaan, Ke-aku-an iblis telah menyebabkannya terusir dari Surga, Ke-aku-an fir’aun telah mengantarkan dirinya menjadi penuhanan dirinya. Penyerahan diri seorang murid kepada gurunya menjadi sarana eliminasi ke-aku-an atau kesombongan akan dirinya.

Silsilah Tareqat Khalwatiyah Samman

December 26, 2008

Sumber : Syekh Yusuf:Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang
Oleh : Prof. Dr. Abu Hamid

  • Jalla wa ala’ (Allah Taala)
  • Al-Musthafa Rasulullah SAW
  • Ali Ibnu abi Thalib
  • Hasan Al-Basri
  • Quthub al-Gauts Habib al-Ajami
  • Quthub Daud al-Thaai
  • Abu al-Mahfuz Ma’ruf al-Kahri
  • Khan Sirri as-Saqthi
  • Sayed al-Thaifah Junaid al-Bagdadi
  • Mumsyad ad-Daenuri
  • Abu Ahmad Aswad ad-Daenuri
  • Muhammad Ibnu Abdullah as-Shiddiqi
  • Abu Najib Ibnu Abdullah as-Shidiqqi
  • Quthubuddin Muhammad Al-Abhari
  • Ruknuddin al-Syayasyi
  • Mullah Syahabuddin Muhammad al-Tibrizi
  • Mullah Jamaluddin al-Tabrizi
  • Ibrahim al-Zahid al-Jaelani
  • Abu Abdullah Muhammad al-Syarwani
  • Maulana Affandi Umar al-Khalwati
  • Muhammad Amir Ummul Khalwati
  • Ismuddin al-Khalwati
  • syahruddin al-Madani
  • Muhammad al-Anjai
  • As-Syahirul Majal al-Khalwati
  • Khaily Salman al-Aqrai
  • Kahruddin at-Tauqa’i
  • Sya’ban al-Qastamuny
  • Muhyiddin al-Qastamuny
  • Sayyidi Amrul Fuady
  • Ismail al-Jairuni
  • Affandi al-Qurbasyi
  • Muhammad Mustafa al-qadi al-Danawy
  • Abdul Latif al-Khalwati
  • Maulana Mustafa al-Bakri
  • Muhammad Ibnu Abdul Karim as-Samman al-Madany
  • Ash-Shiddiq al-Khalwati
  • Idris Ibnu Usman
  • Abdullah Al-Munir
  • Muhammad Fudhail
  • Abdul Razak, Haji Palopo
  • Haji Abdullah Tajul Arifin

Syeikh Abdush Shamad al-Palimbani

December 23, 2008

Dalam percaturan intelektualisme Islam Nusantara –atau biasa juga disebut dunia Melayu– khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdush Shamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya semisal Al-Raniri, Al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf Al-Maqassari, dan masih banyak lainnya.

Dalam deretan nama-nama tersebut itulah, posisi Syeikh Al-Palimbani menjadi amat sentral berkaitan dengan dinamika Islam. Malah, sebagian sejarahwan, seperti Azyumardi Azra, menilai Al-Palimbani sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan Islam di dunia Melayu. Ia bahkan juga bersaham besar bagi nama Islam di Nusantara berkaitan kiprah dan kontribusi intelektualitasnya di dunia Arab, khususnya semasa ia menimba ilmu di Mekkah.

Riwayat hidup Abdush Shamad al-Palimbani sangat sedikit diketahui. la sendiri hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya, selain tempat dan tanggal yang dia cantumkan setiap selesai menulis sebuah kitab. Seperti yang pernah ditelusuri M. Chatib Quzwain dan juga Hawash Abdullah, satu-satunya yang menginformasikan tentang dirinya hanya Al-Tarikh Salasilah Negeri Kendah (di Malaysia) yang ditulis Hassan bin Tok Kerani Mohammad Arsyad pada 1968.

Sumber ini menyebutkan, Abdush Shamad adalah putra Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad al-Mahdani (ada yang mengatakan al-Mahdali), seorang ulama keturunan Arab (Yaman) yang diangkat menjadi Mufti negeri Kedah pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, Radin Ranti adalah seorang wanita Palembang. Syekh Abdul Jalil adalah ulama besar sufi yang menjadi guru agama di Palembang, tidak dijelaskan latar belakang kedatangannya ke Palembang. Diperkirakan hanya bagian dari pengembaraannya dalam upaya menyiarkan Islam sebagaimana banyak dilakukan oleh warga Arab lainnya pada waktu itu.

Tetapi selain sumber tersebut, Azyu-mardi Azra juga mendapatkan informasi mengenai dirinya dalam kamus-kamus biografi Arab yang menunjukkan bahwa Al-Palimbani mempunyai karir terhormat di Timur Tengah.

Menurut Azra, informasi ini merupakan temuan penting sebab tidak pernah ada sebelumnya riwayat-riwayat mengenai ulama Melayu-lndonesia ditulis dalam kamus biografi Arab. Dalam literatur Arab, Al-Palimbani dikenal dengan nama Sayyid Abdush Shamad bin Abdur Rahman al-Jawi. Tokoh ini, menurut Azra, bisa dipercaya adalah Al-Palimbani karena gambaran karirnya hampir seluruhnya merupakan gambaran karir Abdush Shamad al-Palimbani yang diberitakan sumber-sumber lain.

Sejauh yang tercatat dalam sejarah, memang ada tiga versi nama yang dikaitkan dengan nama lengkap Al-Palimbani. Yang pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan: 1994), ulama besar ini memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara versi terakhir, tulis Rektor UIN Jakarta itu, bahwa bila merujuk pada sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi.

Dalam pengembaraan putra mahkota Kedah, Tengku Muhammad Jiwa ke Palembang, ia bertemu dengan Syekh Abdul Jalil dan berguru padanya, bahkan mengikutinya mengembara ke berbagai negeri sampai ke India. Dalam sebuah perjalanan mereka, Tengku Muhammad Jiwa mendapat kabar bahwa Sultan Kedah telah mangkat. Tengku Muhammad Jiwa lalu mengajak gurunya itu (Syekh Abdul Jalil) pulang bersamanya ke negeri Kedah. Ia dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1112 H/1700 M dan Syekh Abdul Jalil diangkat menjadi mufti Kedah dan dinikahkan dengan Wan Zainab, putri Dato’ Sri Maharaja Dewa, Sultan Kedah.

Tiga tahun kemudian Syekh Abdul Jalill kembali ke Palembang karena permintaan beberapa muridnya yang rindu padanya. Di Palembang ia menikah dengan Radin Ranti dan memperoleh putra, Abdush Shamad. Dengan demikian kemungkinan Abdush Shamad lahir tahun 1116 H/1704 M.

Sumber yang menyebutkan silsilahnya sebagai keturunan Arab tidak pernah dikonfirmasikan oleh Al-Palimbani sendiri. Jika keterangan sumber tersebut benar, tentu Al-Palimbani akan mencantumkan nama besar al-Mahdani pada akhir namanya. Ini dapat dilihat dari setiap tulisannya, ia menyebut dirinya Syekh Abdush Shamad al-Jawi al-Palimbani. Kemungkinan dalam dirinya memang mengalir darah Arab tetapi silsilah itu tidak begitu jelas atau ada mata rantai yang tidak bersambung menurut garis keturunan bapak sehingga dia tidak merasa berhak menyebut dirinya keturunan al-Mahdani dari Yaman. Dan barangkali dia lebih merasa sebagai orang Indonesia sehingga mencantumkan ‘al-Jawi‘ dan ‘al-Palimbani‘ di ujung namanya.

Al-Palimbani mengawali pendidikannya di Kedah dan Pattani (Thailand Selatan). Tidak ada penjelasan kapan dia berangkat ke Makkah melanjutkan pendidikannya. Kemungkinan besar setelah ia menginjak dewasa dan mendapat pendidikan agama yang cukup di negeri Melayu itu. Dan agaknya sebelum ke Makkah dia telah mempelajari kitab-kitab para sufi (tasawuf) Aceh, karena di dalam Sayr al-Salikin dia menyebutkan nama Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf al-Jawi al-Fansuri (Abdul Rauf Singkel). Namun sumber lain mengatakan bahwa ia pernah bertemu dan berguru pada Syamsuddin al-Samatrani dan Abdul Rauf Singkel di Makkah.

Di Makkah dan Madinah, Al-Palimbani banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu kepada ulama-ulama besar masa itu serta para ulama yang berkunjung ke sana. Walaupun pendidikannya sangat tuntas mengingat ragam ulama tempatnya belajar, Al-Palimbani mempunyai kecenderungan pada tasawuf. Karena itu, di samping belajar tasawuf di Masjidil-Haram, ia juga mencari guru lain dan membaca kitab-kitab tasawuf yang tidak diajarkan di sana. Dari Syekh Abdur Rahman bin Abdul ‘Aziz al-Magribi dia belajar kitab Al-Tuhfatul Mursalah (Anugerah yang Diberikan) karangan Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri (w. 1030 H/1620 M). Dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani (w. 1190 H/1776 M) ia belajar kitab tauhid (suluk) Syekh Mustafa al-Bakri (w. 1162 H/1749 M). Dan bersama Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dan Abdul-Rahman Masri Al-Batawi dari Jakarta, mereka membentuk empat serangkai yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad al-Samman (w. 1162 H/1749 M), juga bersama-sama dengan Dawud Al-Fatani dari Patani, Thailand Selatan.

Selama belajar pada Syekh Muhammad al-Samman, Al-Palimbani dipercaya mengajar rnurid-murid Al-Sammani yang asli orang Arab. Karena itu sepanjarig menyangkut kepatuhannya pada tarekat, Al-Palimbani banyak dipengaruhi Al-Sammani dan dari dialah Al-Palimbani mengambil tarekat Khalwatiyyah dan Sammaniyyah. Sebaliknya, melalui Al-Palimbani-lah tarekat Sammaniyyah mendapat lahan subur dan berkembang tidak hanya di Palembang tetapi juga di bagian lain wilayah Nusantara bahkan di Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina. Beberapa orang guru yang masyhur dan berandil besar dalam proses peningkatan intelektualitas dan spiritualitasnya antara lain Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani, Muhammad bin Sulayman Al-Kurdi, dan Abdul Al-Mun’im Al-Damanhuri. Juga tercatat ulama besar Ibrahim Al-Rais, Muhammad Murad, Muhammad Al-Jawhari, dan Athaullah Al-Mashri.

Al-Palimbani rnemantapkan karirnya di Haramayn (Mekkah dan Madinah) dan mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Meski demikian dia tetap menaruh perhatian yang besar terhadap Islam dan kaum Muslimun di negeri asalnya. Di Haramayn ia terlibat dalam ‘komunitas Jawi’ yang membuatnya tetap tanggap terhadap perkembangan sosio-religius dan politik di Nusantara. Peran pentingnya tidak hanya karena keterlibatannya dalam jaringan ulama, melainkan lebih penting lagi karena tulisan-tulisannya yang tidak hanya menyebarkan ajaran-ajaran sufisme tetapi juga menghimbau kaum Muslimun melancarkan jihad melawan kolonialis Eropa, dibaca secara luas di wilayah Melayu-lndonesia. Peranan dan perhatian tersebut memantapkannya sebagai ulama asal Palembang yang paling menonjol dan paling berpengaruh melalui karya-karyanya.

Al-Palimbani berperan aktif dalam memecahkan dua persoalan pokok yang saat itu dihadapi bangsa dan tanah airnya, baik di kesultanan Palembang maupun di kepulauan Nusantara pada umumnya, yaitu menyangkut dakwah Islamiyah dan kolonialisme Barat. Mengenai dakwah Islam, ia menulis selain dua kitab tersebut di atas, yang menggabungkan mistisisme dengan syariat, ia juga menulis Tuhfah al-Ragibtn ft Sayan Haqfqah Iman al-Mukmin wa Ma Yafsiduhu fi Riddah al-Murtadin (1188). Di mana ia memperingatkan pembaca agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tasawuf yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen) dan paham wujudiyah muthid yang sedang marak pada waktu itu. Drewes rnenyimpulkan bahwa kitab ini ditulis atas permintaan sultan Palembang, Najmuddin, atau putranya Bahauddin karena di awal kitab itu ia memang menyebutkan bahwa ia diminta seorang pembesar pada waktu itu untuk menulis kitab tersebut.

Mengenai kolonialisme Barat, Al-Palimbani menulis kitab Nasihah al-Muslimin wa tazkirah al-Mu’min fi Fadail Jihad ti Sabilillah, dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum Muslimun dalam melawan penjajahan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut.

Masalah jihad fi sabililiah sangat banyak dibicarakan Al-Palimbani. Pada tahun 1772 M, ia mengirim dua pucuk surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Pangeran Singasari Susuhunan Prabu Jaka yang secara halus menganjurkan pemimpin-pemimpin negeri Islam itu meneruskan perjuangan para Sultan Mataram melawan Belanda.

Mengenai tahun wafatnya juga tidak diketahui dengan pasti. Al-Tarikh Salasilah Negeri Kendah menyebutkan tahun 1244 H/1828 M. Namun kebanyakan peneliti lebih cenderung menduga ia wafat tidak berapa lama setelah meyelesaikan Sayr al-Salikin (1203 H/1788 M). Argumen mereka, Sayr al-Salikin adalah karya terakhirnya dan jika dia masih hidup sampai 1788 M kemungkinan dia masih tetap aktif menulis. Al-Baythar – seperti dikutip Azyumardi Azra – menyebutkan ia wafat setelah tahun 1200/1785. Namun Azyumardi Azra sendiri juga lebih cenderung mengatakan ia wafat setelah menyelesaikan Sayr al-Salikin, tahun 1788 M.

Karya Tulis Al-Palimbani
Tercatat delapan karya tulis Al-Palimbani, dua diantaranya telah dicetak ulang beberapa kali, dua hanya tinggal nama dan naskah selebihnya masih bisa ditemukan di beberapa perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa. Pada umumnya karya tersebut meliputi bidang tauhid, tasawuf dan anjuran untuk berjihad. Karya-karya Al-Palirnbani selain empat buah yang telah disebutkan di atas adalah:
Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, ditulis pada 1178 H/1764 M di Makkah dalam bahasa Melayu, memuat masalah tauhid yang ditulisnya atas perrnintaan pelajar Indonesia yang belurn menguasai bahasa Arab.

Al-’Uwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa’, ditulis dalam bahasa Arab, berisikan wirid-wirid yang perlu dibaca pada waktu-waktu tertentu.

Ratib ‘Abdal-Samad, semacam buku saku yang berisi zikir, puji-pujian dan doa yang dilakukan setelah shalat Isya. Pada dasarnya isi kitab ini hampir sama dengan yang terdapat pada Ratib Samman.

Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-’Alamin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Samman di Madinah.

Mengenai Hidayah al-Salikin yang ditulisnya dalam bahasa Melayu pada 1192 H/1778 M, sering disebut sebagai terjemahan dari Bidayah al-Hidayah karya Al-Ghazali. Tetapi di samping menerjemahkannya, Al-Palimbani juga membahas berbagai masalah yang dianggapnya penting di dalam buku itu dengan mengutip pendapat Al-Ghazali dari kitab-kitab lain dan para sufi yang lainnya. Di sini ia menyajikan suatu sistem ajaran tasawuf yang memusatkan perhatian pada cara pencapaian ma’rifah kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sedangkan Sayr al-Salikin yang terdiri dari empat bagian, juga berbahasa Melayu, ditulisnya di dua kota, yaitu Makkah dan Ta’if, 1779 hingga 1788. Kitab ini selain berisi terjemahan Lubab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali, juga memuat beberapa masalah lain yang diambilnya dari kitab-kitab lain. Semua karya tulisnya tersebut masih dijumpai di Perpustakaan Nasional Jakarta.***

Sejarah Khalwatiyah Samman di Sulawesi Selatan

December 23, 2008

Khalwatiah Samman atau Sammaniyah salah satu tareqat yang mayoritas pengikutnya adalah Suku Bugis Makassar. Di Sulawesi awalnya diajarkan oleh Syeh Muhammad Fudail dari gurunya Syeh Abdullah Al Munir. Syeh Abdullah Al Munir mengajarkan tareqat ini kepada Syeh Muhammad Fudail di Sumbawa dan dimakamkan di pulau tersebut. Sedangkan Syeh Muhammad Fudail megajarkan dan menyebarkan tareqat ini melalui muridnya Syeh Abdul Razzak. Muhammad Fudail memilih Barru sebagai tempat pengajarannya dan dimakamkan di daerah itu pula.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.